MACAM-MACAM SYAFA'AT PADA HARI KIAMAT
Definisi syafa’at
Secara bahasa syafa’at berarti menjadikan sesuatu genap
(berpasangan). Asy-syaf’u artinya genap lawan
dari al-witru (genap).
Adapun dalam istilah syariat: syafa’at adalah menjadi penengah bagi orang lain untuk
mengusahakan kebaikan atau mencegah keburukan.
Definisi ini sesuai dengan makna syafa’at secara bahasa, karena
dengan adanya penengah maka jadilah keduanya genap.
Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata:
“Rasulullah memberikan
syafa’at kepada manusia pada hari kiamat, yaitu dengan memberikan ketenangan
pada waktu mereka dalam ketakutan.
Rasul juga memberikan
syafa’at dengan memohon keringanan adzab untuk sebagian orang-orang kafir,
sebagaimana yang terjadi pada diri paman beliau Abu Thalib.
Rasul juga memberikan
syafa’atnya dengan memohon kepada Allah untuk mengeluarkan sebagian orang
mukmin dari siksa api neraka atau memohonkan mereka untuk tidak dimasukkan ke
dalam api neraka setelah ditetapkan bahwa mereka akan masuk neraka.
Rasul juga dapat
memberikan syafa’at bagi seseorang untuk masuk surga tanpa melalui proses hisab
atau dengan mengangkat derajat sebagian mereka untuk bisa tinggal dalam surga
yang lebih tinggi.” (Fathul Bari syarah Shahih Bukhari)
Ibnu Abil Izz Al
Hanafi (murid Ibnu Katsir) menyebutkan
bahwa syafa’at ada 8, yaitu:
1. Syafa’at Udzma, ini
khusus bagi Nabi Muhammad.
2. Syafa’atnya Nabi Muhammad kepada kaum yang
kebaikan dan keburukannya seimbang untuk masuk surga.
3. Syafa’atnya Nabi
Muhammad kepada siapa yang disuruh masuk neraka untuk tidak memasukinya.
4. Syafa’atnya Nabi
Muhammad untuk mengangkat derajat ahlul jannah.
5. Syafa’atnya Nabi
Muhammad kepada suatu kaum untuk masuk jannah tanpa hisab.
6. Syafa’atnya Nabi
Muhammad untuk meringankan adzab neraka bagi siapa yang berhak mendapatkannya,
seperti syafa’atnya kepada pamannya Abu Thalib.
7. Syafa'tnya Nabi
Muhammad kepada segenap kaum mu'minin agar diizinkan masuk syurga.
8. Syafa'atnya Nabi Muhammad kepada para pelaku
dosa besar dari kalangan umatnya yang masuk neraka agar keluar
darinya. (Syarh Aqidah Thohawiyyah oleh Ibnu Abil Iz Al Hanafi)
Syafa’at pada hari
kiamat ada bermacam-macam seperti yang telah disebutkan dalam banyak hadits.
Macam-macam syafa’at tersebut di antaranya adalah:
1. Syafa’at Terbesar Al Udzma
atau Al Kubra Nabi Muhammad di Padang Mahsyar
Dari Abu
Hurairoh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada suatu hari
Rasulullah diberi daging, dengan disuguhkan kepada beliau bagian lengan kambing
dan beliau menyukainya. Lalu, beliau menggigitnya dengan ujung giginya.
Kemudian beliau bersabda: “Aku adalah pemimpin (tuan / sayyid) manusia pada
Hari Kiamat. Apakah kamu sekalian mengerti mengapa demikian? Pada Hari Kiamat,
Allah mengumpulkan semua manusia, yang dahulu dan yang akhir di suatu tempat.
Lalu mereka mendengar suara penyeru. Pandangan pun tiada terhalang, dan
matahari pun dekat. Manusia mengalami kesedihan dan kesulitan yang tiada mampu
mereka tanggung dan mereka pikul. Maka, sebagian di antara mereka berkata
kepada sebagian yang lain, “Tidakkah kamu tahu apa yang kamu alami? Tidakkah
kamu tahu apa yang menimpamu? Tidakkah kamu cari siapa yang dapat
memberimu syafa’at kepada Rabb-mu?”
Sebagian yang lain di
antara mereka pun menjawab, “Datangilah Adam.”
Kemudian mereka pun
mendatangi Adam, dan berkata: “Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia,
Allah telah menciptakanmu dengan Tangan-Nya. Lalu Dia tiupkan
kepadamu Ruh-Nya dan memerintahkan para Malaikat agar mereka bersujud (hormat)
kepadamu. Maka mintalah kepada Rabb-mu syafa’at bagi kami. Tidakkah
engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang menimpa
kami?”.
Nabi Adam menjawab: “Sesungguhnya
Rabb-ku pada hari ini murka yang tiada pernah Dia marah sebelum dan sesudahnya
seperti itu. Rabb-ku pernah melarangku mendekati sebuah pohon (di
surga dulu),tetapi aku berma’shiyat, melanggar larangan itu karena nafsuku. Aku
(saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah
kalian kepada Nabi lain selainku. Pergilah kalian kepada Nuh.”
Kemudian mereka
mendatangi Nabi Nuh, lalu berkata : “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama
di bumi. Allahmenyebutmu sebagai hamba yang sangat bersyukur. Maka
mintakanlah kepada Rabb-mu syafa’at untuk kami.Tidakkah engkau
tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang telah menimpa
kami?”.
Nabi Nuh menjawab : “Sesungguhnya
Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu
sebelum dan sesudahnya. Sungguh, dahulu aku pernah mendo’akan jelek untuk
kaumku. Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk
dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Ibrahim.”
Kemudian manusia
mendatangi Nabi Ibrahim, dan berkata: “Engkau adalah Nabi Allah dan Kekasih-Nya dari
penduduk bumi. Mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah
engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang
menimpa kami?”.
Kemudian Nabi Ibrahim
pun menjawab, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang
belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya.”
Nabi Ibrahim
menyebutkan dusta yang telah dialaminya (ketika ia menghancurkan berhala –
pen). Nabi Ibrahim berkata, “Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri,
aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi lain
selainku. Pergilah kalian kepada Musa.”
Maka mereka pun
mendatangi Musa, lalu berkata: “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah
memberimu keutamaan dengan risalah-Nya, dan firman-Nya kepadamu
melebihi manusia lain. Maka mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk
kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa
yang telah menimpa kami?”.
Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya
Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu
sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya aku pernah membunuh seseorang yang aku
tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku
sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada ‘Isa.”
Lalu mereka mendatangi
Nabi ‘Isa, seraya berkata: “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah. Engkau
telah berbicara kepada manusia ketika engkau baru lahir. Engkau terwujud dengan
kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dengan tiupan roh dari-Nya.
Maka, mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau
tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang menimpa
kami?”.
Nabi ‘Isa menjawab: “Sesungguhnya
Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu
sebelum dan sesudahnya.”
Nabi ‘Isa tidak menyebutkan
dosa yang pernah dialaminya.
Kata Nabi ‘Isa
selanjutnya, “Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan
urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Muhammad.”
Kemudian mereka
mendatangiku, dan berkata : “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, engkau
adalah Penutup para Nabi, Allah telah memberikan
ampunan atas dosa yang telah engkau lakukan (seandainya ada). Maka,
mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu
apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang menimpa kami?”.
Maka aku (Nabi
Muhammad) pergi dan mendatangi Tahtal ‘Arsy (ke bawah
‘Arsy). Lalu aku bersujud kepada Rabb-ku. Kemudian Allah memberiku pertolongan
dan pemberitahuan yang tidak pernah Dia berikan kepada seseorang sebelum aku.
Dia berfirman, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, maka engkau
akan diberi. Mintalah syafa’at, maka engkau akan diizinkan untuk
memberi syafa’at.”
Lalu aku mengangkat
kepalaku, dan aku mengatakan : “Ya Allah, tolonglah umatku! Tolonglah umatku!”
Aku dijawab: “Wahai
Muhammad, masukkanlah ke surga umatmu yang bebas hisab dari pintu kanan surga,
dan selain mereka lewat pintu yang lain lagi.” Demi Allah yang
menguasai diri Muhammad, sesungguhnya antara dua daun pintu di surga sebanding
antara Mekkah dan Hajar (daerah Palestina – pent.), atau antara Mekkah dan
Bashra (Iraq – pent.).” (HR. Muslim no. 194)
2. Syafa’atnya Nabi Muhammad kepada Kaum yang Kebaikan dan
Keburukannya Seimbang (Ashabul A’raf) untuk Masuk Surga
Orang mukmin yang
mempunyai kebaikan dan keburukan yang seimbang (ashabul a’raf), maka mereka
berada di antara batas surga dan neraka. Ketika mereka melihat ke arah surga,
mereka ingin dapat memasukinya. Tetapi ketika mereka melihat ke arah neraka,
mereka memohon kepada Allah agar tidak dimasukkan ke dalamnya.
Allah berfirman: “Dan
di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf
itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan
tanda-tanda mereka. dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun
‘alaikum[Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kalian]“. mereka
belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila
pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan
kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang dzalim itu.
Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka
orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan:
“Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah
memberi manfaat kepadamu.” (QS. Al A’raf 46-48)
Hudzaifah berkata:
“Ashabul A’raf adalah kaum yang mana antara kebaikan dan keburukan mereka
seimbang, kemudian Allah berfirman kepada mereka: “Masuklah surga dengan
anugerah dan ampunan-Ku, pada hari ini janganlah kalian takut dan janganlah
kalian bersedih hati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsirnya, 12/453,
no 14688. Atsar yang serupa dengan ini juga diriwayatkan oleh Al-Jama’ah)
Ibnu Katsir berkata:
“Semua pendapat ini adalah saling berdekatan, yang kembali kepada satu makna
yaitu mereka (ashabul a’raf-pen) adalah kaum yang kebaikan dan keburukannya
sama”. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/121)
Ibnu Mas’ud berkata :
“Ketika mereka (ashabul a’raf) berada di atas Sirath, mereka boleh mengetahui
keadaan penduduk surga dan penduduk neraka. Maka apabila mereka melihat keadaan
penduduk syurga mereka berkata: “Keselamatan bagi kalian”, dan ketika mereka
mengalihkan pandangan mereka ke sebelah kiri mereka bisa melihat penduduk
neraka, mereka berkata : “Ya Allah jangan jadikan kami bersama orang-orang
dzalim”. Mereka berlindung kepada Allah dari neraka yang mereka lihat itu.
Adapun orang yang banyak berbuat kebaikan, maka mereka diberi cahaya, yang mana
cahaya itu berada di depan mereka dan samping kanan mereka dan mereka berjalan
dengannya. Pada hari itu setiap hamba dan umat diberi cahaya. Maka ketika
mereka semua sampai di atas Sirath, Allah mencabut cahaya orang-orang munafik,
ketika ahli surga melihat apa yang terjadi pada orang munafik maka mereka
berkata : “Ya Tuhan kami sempurnakanlah cahaya kami”. Adapun ashabul a’raf
cahaya mereka hanya ada di arah depan saja. Itulah yang difirmankan oleh Allah
: “Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).”
(Tafsir Ath-Thabari 12/454, juga disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya,
3/419)
Ashabul a’raf tertahan
di antara batas surga dan neraka. Mereka baru bisa memasuki surga setelah
mendapat syafa’at dari Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam. Imam Ath-Thabrani meriwayatkan, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Orang-orang
yang berlomba-lomba dalam kebajikan memasuki surga dengan tanpa hisab, orang
yang pertengahan memasuki surga dengan rahmat Allah, dan orang yang mendzalimi
diri mereka sendiri dan ashabul a’raf mereka masuk surga dengan syafa’at dari
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.” (Al-Mu’jam Al-Kabir
Lith-Thabrani, 9/391, no 11292)
Ibnu Katsir berkata:
“Ketika menjelaskan keadaan kaum muslimin di hari kiamat nanti berdasarkan ayat
ini, Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu berkata : “Orang yang lebih dahulu berbuat
kebaikan akan masuk surga dengan tanpa hisab dan orang yang muqtasid akan masuk
ke surga dengan rahmat Allah, sedangkan orang yang mendzalimi dirinya sendiri
dan ashabul a’raf akan masuk surga dengan syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam.” (Tafsir Ibnu Katsir III/556)
3. Syafa’at Nabi Muhammad
kepada Calon Penghuni Surga yang Berada di Luar Pintu Surga Agar Segera Masuk
Surga
Pintu-pintu surga dapat
dibuka dengan izin Allah melalui syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Dalil tentang syafa’at ini bisa ditemui dalam firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala :
"Dan orang-orang
yang bertakwa kepada Rabb-nya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula).
Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu, sedang pintu-pintunya telah
terbuka dan berkatalah kepada mereka para penjaganya: "Kesejahteraan
(dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu. Maka masukilah surga ini, sedang kamu
kekal di dalamnya." (QS. Az Zumar: 73)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku akan mendatangi pintu surga pada hari kiamat, lalu aku meminta agar pintu tersebut dibuka. Penjaga pintu surga bertanya: Siapakah engkau? Aku menjawab: Muhammad. Penjaga itu berkata: Aku diperintahkan agar tidak membukakannya untuk siapa pun sebelum engkau.” (HR. Muslim, no. 292)
Diriwayatkan dari Anas
bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Aku adalah manusia yang paling banyak pengikutnya
pada hari Kiamat. Dan akulah orang pertama yang mengetuk pintu surga.” (HR.
Muslim, no. 290)
Syafa’at ini adalah
salah satu syafa’at khusus yang Allah Ta’ala berikan kepada Nabi
kita, Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak diberikan
kepada Nabi atau Rasul yang lainnya. Syaikh Muhammad bin Sholih
al-Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa tidak ada yang masuk surga,
kecuali setelah syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam berdasarkan hadits di atas.
4. Syafa’at Nabi Muhammad
kepada Pamannya Abu Thalib Agar Diringankan Adzabnya
Dari Abbas bin Abdul
Muthalib berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau bisa memberi manfaat kepada
Abu Thalib, sebab dia dulu memeliharamu dan membelamu?” Jawab beliau: “Benar,
dia berada di neraka yang paling dangkal, kalau bukan karenaku niscaya dia
berada di neraka yang paling bawah.“ (HR. Bukhari no. 3883, 6208, 6572,
Muslim 209)
Dari Abu Sa`id Al Khudri, berkata: Disebutkan di sisi Rasulullah pamannya Abu Thalib, maka beliau bersabda: ”Semoga syafa’atku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat. Karena itu dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal, api neraka mencapai mata kakinya lantaran itu otaknya mendidih”. (HR.Bukhari 3885, 6564, Muslim 210)
Adzab neraka yang akan
diterima oleh Abu Thalib adalah menggunakan alas kaki dari api neraka yang akan
membuat otaknya mendidih. Syafa’at ini khusus untuk Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa’at kepada
orang kafir, kecuali Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Syafa’at
beliau shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abu Thalib tidaklah diberikan atau
dikabulkan secara sempurna, akan tetapi sekedar meringankan adzab Abu Thalib,
lantaran di dunia ia membela keponakannya dari gangguan kaum kafir Quraisy. Abu
Thalib tidak bisa keluar dari neraka karena beliau tidak mau mengucapkan
kalimat tauhid “Laa ilaaha illallaah” menjelang wafatnya sehingga beliau mati
dalam keadaan kafir.
5. Syafa’at Nabi Muhammad
kepada Kaum Mukminin Agar Bisa Masuk Surga Tanpa Hisab
Dari Abu
Hurairoh, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda (ketika mengabarkan
tentang syafa’at Al Udzma) : “Aku dijawab: “Wahai
Muhammad, masukkanlah ke surga umatmu yang bebas hisab dari pintu kanan surga,
dan selain mereka lewat pintu yang lain lagi.” (HR. Muslim no.
194)
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan tentang orang-orang
yang masuk surga tanpa hisab, beliau bersabda: “Mereka itu adalah
orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak pernah minta diobati dengan metode
kai, tidak tathayyur dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” Ukasyah bin
Mihshan berdiri dan mengatakan: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar
aku termasuk golongan mereka.” Rasulullah menjawab: “Engkau termasuk golongan
mereka.” Sahabat yang lain lantas berdiri dan mengatakan: “Berdoalah kepada
Allah agar aku termasuk di antara mereka.” Rasulullah bersabda: “Engkau
sudah kedahuluan Ukasyah.” (HR. Bukhari 5705 dan Muslim 220)
6. Syafa’at dari Allah, Para
Nabi, Para Malaikat, dan Kaum Mukminin kepada Para Penghuni Neraka yang Beriman
Agar Dikeluarkan dari Neraka
Dari Abu Sa’id Al
Khudri bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemudian
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Para malaikat telah memberikan syafa’at, para
nabi juga sudah memberikan syafa’at, dan kaum mukmininpun sudah memberikan
syafa’at. Maka tidak ada lagi yang lain, kecuali Allah –Arhamur Rahimin. Maka
Allah mengambil sekelompok orang dengan satu genggaman-Nya dari neraka. Lalu Dia
mengeluarkan dari neraka sekelompok orang yang tidak pernah berbuat kebaikan
sama sekali.” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari XIII/421 hadits no. 7439
Kitab At Tauhid Bab 24 dan Muslim dalam Shahih Muslim Syarh Nawawi III/32
hadits no. 453)
a. Syafa’at dari Allah
Dibawakan oleh Hammad
bin Zaid, ia berkata: Aku bertanya kepada Amr bin Dinar: “Apakah engkau
mendengar Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu membawakan hadits dari
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya
Allah mengeluarkan sekelompok orang dari neraka dengan syafaat?” Amr
bin Dinar menjawab: “Ya.” (HR. Bukhari dalam Kitab Ar Riqaq
Bab Shifatil Jannah wan Naar no. 6558 Fathul Bari XI/416 dan Muslim Kitab Al
Iman Bab Adna Ahlil Jannah Manzilatan Fiha III/49 no. 470 Syarh Nawawi)
Dari Abu Sa’id Al
Khudri bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka Allah berfirman: Para
Malaikat, para Nabi, orang-orang yang beriman memberikan syafa’at, dan
tidak ada yang tersisa kecuali lalu Allah Yang Maha Pengasih akan
menggenggam satu atau dua genggaman dari neraka kemudian
mengeluarkan dari neraka itu kaum, yang tidak pernah dari kaum itu beramal
dengan amalan yang baik sedikitpun, sedang mereka telah terbakar dan menjadi
arang. Kemudian ditumpahkan pada mereka Al Hayaat (air kehidupan) sehingga
mereka pun tumbuh seperti biji kecambah. Lalu keluarlah jasad mereka kembali
bagaikan mutiara dan pada pundak mereka tertulis “Bebas dari neraka”, dan
dikatakanlah pada mereka, “Masuklah kalian kedalam surga.” (Diriwayatkan
oleh Ahmad no. 11917 berkata Syaikh Syuaib Al Arna’uth bahwa Hadits ini
sanadnyashahih sesuai dengan syarat Shahih Imam Al Bukhari dan
Imam Muslim, dan diriwayatkan oleh Al Imam Abdurrozaq no: 20857)
b. Syafa’at dari Para Nabi
Dari Imran bin Hushain
dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Akan keluar
sekelompok orang dari neraka karena syafa’at Muhammad shollallahu ‘alaihi
wasallam (dalam suatu lafazh yang lain: “Karena syafa’atku”). Lalu mereka masuk
ke dalam surga. Mereka dinamakan Jahannamiyyun.” (HR. Abu Dawud dalam
Shahih Abu Dawud Kitab As-Sunnah Bab fii Asy-Syafaah hadits no. 4740 dan Ibnu
Majah dalam Shahih Ibnu Majah Kitab Az Zuhd Bab Dzikri Asy Syafaah hadits no.
3501)
c. Syafa’at dari Para
Malaikat
Allah berfirman: “Dan
berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna,
kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya.”
(QS. An-Najm: 26)
Abu Hasan Al-Asyari
berkata: “Kalau ada orang yang bertanya tentang Firman Allah: “Dan mereka
(malaikat) tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridhai-Nya”
(QS. Al-Anbiya: 28). Maka jawabnya: Mereka (malaikat) itu hanya memberi syafaat
kepada orang-orang yang diridhai Allah.” (Al-Ibanah An-Ushul Ad-Diyanah oleh
Abu Hasan Al-Asyari)
d. Syafa’at dari Kaum
Mukminin
Dari Abu Sa’id al
Khudri radhiyallahu ‘anhu, melalui jalan riwayat lain, yaitu dari ‘Atha’ bin
Yasar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah Yang jiwaku
ada di tangan-Nya. Tidak ada seorangpun di antara kamu yang lebih bersemangat
di dalam menyerukan permohonannya kepada Allah untuk mencari cahaya kebenaran,
dibandingkan dengan kaum Mukminin ketika memohonkan permohonannya kepada Allah
pada hari Kiamat untuk (menolong) saudara-saudaranya sesama kaum Mukminin yang
berada di dalam neraka. Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, mereka dahulu
berpuasa, shalat dan berhaji bersama-sama kami”. Maka dikatakan (oleh Allah)
kepada mereka: “Keluarkanlah oleh kalian (dari neraka) orang-orang yang kalian
tahu!” Maka bentuk-bentuk fisik merekapun diharamkan bagi neraka (untuk
membakarnya). Kemudian orang-orang Mukmin ini mengeluarkan sejumlah banyak
orang yang dibakar oleh neraka sampai pada pertengahan betis dan lututnya.”
[HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Fathul Bari (XIII/421), hadits no. 7439, Kitab
at Tauhid, Bab 24, dengan lafadz berbeda. Dan lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi,
tahqiq Khalil Ma’mun Syiha (III/32), hadits no. 453. Lafadz hadits di atas
adalah lafadz Imam Muslim]
7. Syafa’at Mukminin kepada
Para Calon Penghuni Neraka yang Beriman Agar Tidak Jadi Masuk Neraka
Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang mayit disholatkan oleh
sekelompok orang Islam yang jumlah mereka mencapai 100, semuanya memintakan syafa’at
untuknya, melainkan syafa’at itu akan diberikan pada dirinya.” (HR. Muslim
no. 947, 58)
Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia,
lalu jenazahnya disholatkan oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan
sesuatu apapun, melainkan Allah akan memberikan syafa’at kepadanya.” (HR.
Muslim no. 948, 59)
Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam bersabda: “Bahwa pada hari kiamat anak-anak kecil akan
berdiri lalu dikatakan kepada mereka, ”Masuklah ke surga!” Merekapun
menjawab,”(Kami akan masuk) jika bapak dan ibu kami masuk juga ke surga.” Maka
diserukan kepada anak-anak kecil itu, ”Masuklah kalian dan bapak (orang tua)
kalian ke surga!” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 28/174 dan dinilai
baik oleh Al-Arna’uth. Hadits ini dikuatkan oleh hadits-hadits shahih lain yang
semakna oleh Imam Muslim, An-Nasai dan yang lainnya. Lihat Shahih at-Targhib wa
at-Tarhib dan juga Fatawa Al-Azhar 8/104)
8. Syafa’at Kaum Mukminin
kepada Sesamanya Untuk Mengangkat Derajat Mereka di Surga
Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mendoakan sahabatnya, Abu Salamah radhiyallahu 'anhu : "Ya
Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya kepada golongan orang-orang
yang diberi petunjuk, lapangkanlah kuburannya...". (HR. Muslim)
Abu Hurairah
meriwayatkan: Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya,
Allah Azza wa Jalla bisa saja mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di
surga kelak. Si hamba itu akan bertanya, “Ya Rabbi, bagaimana aku bisa
mendapatkan derajat sehebat ini?” Allah berfirman, “Karena permohonan ampun
dari anakmu.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Al-Awsath.
Disebutkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid X : 210)
Said bin Jubair berkata,
dari Ibnu Abbas ia berkata: “Apabila seseorang masuk surga, dia bertanya
tentang orang tuanya, istri dan anaknya. Lalu diberitahukan padanya bahwa
mereka tidak sampai pada tingkatan surgamu, maka dia berkata, ‘Wahai Rabbku,
Engkau mengetahui kecintaanku terhadap mereka, lalu Allah memerintahkan agar
mengangkat keluarganya berkumpul dalam satu surga. Ibnu Abbas kemudian
membacakan ayat “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka
mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka,
dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia
terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21) (Tafsir Ibnu
Katsir)
Sa’id bin Musayyib
berkata: “Seseorang diangkat derajatnya karena doa anaknya setelahnya.”
(Muwatha’ Kitab Al-Qur’an Bab Al-‘Amal Fid Du’aa no. 38)
9. Syafa’at dari Puasa dan
Al-Qur’an
Dari Abdullah bin ‘Amr
bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Puasa dan
Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak.
Puasa akan bertanya: “Wahai Rabb-ku. Aku telah menahannya dari makan pada siang
hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at
kepadanya.” Sedangkan Al-Qur’an berkata: “Aku telah melarangnya dari tidur pada
malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya.”
Maka keduanya pun memberikan syafa’at.” (HR. Ahmad II/174 dan Hakim I/554.
Dishahihkan oleh Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Al-Haitsami berkata:
“Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dalam Mu’jam Kabir. Rijal hadits ini
rijal shahih” (Majma’uz Zawaid III/181). Dishahihkan oleh Albani dalam Tamamul
Minnah halm. 394)
Dari Abu Umamah
Al-Bahili radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia mendengar
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Bacalah
Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi
syafa’at bagi sahabatnya.” (HR. Muslim no. 804)
Dari Abu Umamah
Al-Bahili radhiallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda : “Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah dan Surat
Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan keduanya
dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela
orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surat
Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya
adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya.” (HR. Muslim
804)
Dari An-Nawwas bin
Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata : Saya mendengar Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Akan didatangkan Al-Qur`an pada Hari
Kiamat kelak dan orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal
dengannya, yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran,
keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim 805)
Jika ada yang bertanya:
Bukankah hadits-hadits
tentang adanya syafa’at seperti syafa’at seorang anak kepada bapaknya ditolak
oleh ayat Al-Qur’an:
“Hai manusia,
bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu)
seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula)
menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka
janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula)
penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS.
Luqman: 33)
Maka jawabannya:
Ayat di atas (QS.
Luqman: 33) berkaitan dengan orang-orang kafir.
Ibnul Jauzi menafsirkan firman Allah SWT يا أيها الناس اتقوا ربكم
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu” bahwa para mufasir
mengatakan,”Ayat ini ditujukan untuk orang-orang kafir di Mekah.” Dan firman Allah SWT “لا يجزي والد عن ولده
“seorang bapak tidak dapat menolong anaknya sedikit pun dari kejahatan dan
kezhalimannya. Muqotil mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang kafir. (Zaad al Masir juz V
hal 112)
Hal ini seperti
syafaat Nabi Ibrahim untuk ayahnya yang kemudian ditolak Allah SWT seperti apa
yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi saw, ”Pada hari kiamat Ibrahim
menemui ayahnya Azar dan tampak wajahnya gelap dan tertutupi debu. Lalu Ibrahim
berkata kepadanya, ’Bukankah aku telah mengatakan kepadamu untuk tidak
maksiat.’ Ayahnya berkata, ’Hari ini aku tidak akan maksiat terhadapmu.’ Ibrahim
pun berkata, ’Wahai Allah, sesungguhnya Engkau pernah berjanji kepadaku bahwa
Engkau tidak akan menghinakanku pada hari mereka dibangkitkan maka kehinaan
yang mana yang lebih hina dari yang didapat ayahku yang jauh (dari rahmat-Mu).’
Lalu Allah berfirman,’Sesungguhnya Aku mengharamkan surga buatorang-orang kafir.’ Kemudian dikatakan
kepada Ibrahim, ’Wahai Ibrahim apa yang ada di bawah kedua kakimu.’ Lalu
Ibrahim pun melihatnya dan ternyata ia adalah seekor serigala berbintik-bintik
maka dipeganglah kaki-kakinya dan dilemparkan ke neraka.” (HR. Bukhari)
Adapun untuk orang-orang
yang beriman/bertauhid, maka ada syafa’at seperti yang disebutkan oleh Allah
dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu
mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada
mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan
apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)
“Pada hari itu tidak
berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah
memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (QS.
Thaha : 109)
Abu Hurairah bertanya:
“Ya, Rasulullah. Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu
pada hari kiamat?” Rasulullah bersabda: “Sungguh aku telah menyangka bahwa
tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau
karena semangatmu dalam mencari hadits.” Rasul bersabda: “Orang yang
paling bahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha
illallaah dengan ikhlas dari hatinya.” (HR. Bukhari no. 99)
Ibnu Abbas berkata:
“Orang yang Allah ridhai perkataannya, yaitu orang yang mengucapkan Laa ilaaha
illallaah. Dengan kata lain, Allah tidak akan memberikan syafaat kepada selain mukmin.” (Tafsir Al Baghawi
III/195 Cet. Daar Al Kutub Al Ilmiyyah)
Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah berkata :
”Syafa’at, sebabnya adalah tauhid kepada Allah, dan mengikhlaskan agama dan
ibadah dengan segala macamnya kepada Allah. Semakin kuat keikhlasan seseorang,
maka dia berhak mendapatkan syafa’at. Sebagaimana dia juga berhak mendapatkan
segala macam rahmat. Sesungguhnya, syafa’at adalah salah satu sebab kasih
sayang Allah kepada hamba-Nya. Dan yang paling berhak dengan rahmat-Nya adalah
ahlut tauhid dan orang-orang yang ikhlas kepada-Nya. Setiap yang paling
sempurna dalam mewujudkan kalimat ikhlas (Laa ilaaha illallaah) dengan ilmu,
keyakinan, amal, dan berlepas diri dari berbagai bentuk kesyirikan, loyal
kepada kalimat tauhid, memusuhi orang yang menolak kalimat ini, maka dia yang
paling berhak dengan rahmat Allah. (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
XIV/414 dengan ringkas)
Sumber info: KLIK INI