Safaat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam
Safaat dari Nabi Muhammad
shollallahu ‘alaihi wasallam.
Pengertian safaat.
1. Secara bahasa syafa’at berarti menjadikan sesuatu genap (berpasangan). Asy-syaf’u artinya genap lawan dari al-witru.
2. Adapun dalam istilah syariat: syafa’at adalah menjadi penengah bagi orang lain untuk mengusahakan kebaikan atau mencegah keburukan.
3. Syafaat dapat diartikan sebagai pertolongan yang diberikan seseorang kepada orang lain dengan memberikan manfaat bagi orang tersebut dan menolak mudarat. Namun jika dikaitkan dengan Allah subhananhu wa ta'alal maka syafaat itu memiliki arti sebuah pengampunan yang diberikan oleh-Nya.
Pada hari kiamat nanti
umat manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk menghadapi hari
penghakiman. Kondisi saat itu berdasarkan hadist Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, sangat
kacau, dimana manusia ditimpa kesusahan dan penderitaan sehingga mereka tidak
kuasa menahannya. Matahari didekatkan satu mil di atas kepala, dan semua
berdiri di hadapan Allah selama setengah hari, yang kadar satu hari nya sama
dengan lima puluhribu tahun. Sehingga tidak terbayangkan bagaimana penderitaan
yang dialami manusia saat itu. Namun ada Pertolongan
Allah kepada manusia yang diberi
syafaat oleh Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam atas Izin Allah.
Syafaat yang diberikan
oleh Rasulullah ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini membuat
beliau menjadi tumpuan harapan terakhir bagi manusia. Lantas siapa saja
golongan manusia yang mendapat syafaat dari Rasulullah?
Ada bermacam-macam jenis
syafaat, salah satunya adalah yang khusus dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
Syafaat tersebut diberikan kepada umat atas izin Allah subhanahu wa ta'ala sewaktu masih di
Padang Mahsyar sampai mereka yang sudah masuk ke dalam neraka.
Syafaat yang diberikan
oleh Rasulullah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini membuat beliau
menjadi tumpuan harapan terakhir bagi penghuni neraka yang ingin keluar dari
neraka.
Rasulullah dalam memberikan syafaat
tersebut tidak hanya untuk orang-orang yang bertakwa saja. Namun juga bagi kaum
muslimin yang berbuat maksiat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang
artinya:"Aku di beri pilihan antara (memberi) Syafa'at dan memasukkan
Separoh umatku kedalam surga, maka aku memilih untuk memberi syafa'at, karena
syafa'at itu lebih merata (umum) dan lebih mencukupi.
Apakah kalian menyangka
bahwa Syafa'at itu hanya untuk orang-orang mukmin yang bertaqwa? Tidak !
Melainkan juga untuk orang-orang yang berdosa, orang - orang yang kotor, dan
orang- orang yang melakukan kesalahan.
"Secara umum, syafaat tersebut ditujukan kepada seluruh umat yang
beriman. Mereka yang selama hidupnya pernah mengikrarkan kalimat syahadat,
sebagai bukti keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta pengakuan terhadap Kerasulan
Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam.
Setelah memahami hakekat
syafaat tersebut, maka sebagai kaum
muslimin hendaknya hanya meminta syafaat kepada Allah subhananhu wa ta' ala, sebab hanya Allah lah yang memiliki
syafaat, kalaupun nabi dapat memberi safaat, itu juga atas seizin Allah. Orang
yang minta safaat (pertolongan) bukan pekada Allah atau yang telah ditentukan Allah, maka itu
adalah musyrik.
Cara medapat syafaat dari
Nabi Muhammad.
1. Pada hari kiamat. Manusia minta pertolongan
para nabi, hanya nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam yang bersedia memberi safaat. Safaat
dari nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam pun diberikan hanya kepada manusia yang iman ikhlas
kepada Allah dan Rasulnya… LA ILAHA ILLALAH MUHAMMADUR ROSULULLAH.
Proses mendapatkan safaat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Abu Hurairoh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada suatu hari Rasulullah diberi daging, dengan disuguhkan kepada beliau bagian lengan kambing dan beliau menyukainya. Lalu, beliau menggigitnya dengan ujung giginya. Kemudian beliau bersabda: “Aku adalah pemimpin (tuan / sayyid) manusia pada Hari Kiamat. Apakah kamu sekalian mengerti mengapa demikian? Pada Hari Kiamat, Allah mengumpulkan semua manusia, yang dahulu dan yang akhir di suatu tempat. Lalu mereka mendengar suara penyeru. Pandangan pun tiada terhalang, dan matahari pun dekat. Manusia mengalami kesedihan dan kesulitan yang tiada mampu mereka tanggung dan mereka pikul.
Maka, sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Tidakkah kamu tahu apa yang kamu alami? Tidakkah kamu tahu apa yang menimpamu? Tidakkah kamu cari siapa yang dapat memberimu syafa’at kepada Rabb-mu?”
Sebagian yang lain di antara mereka pun menjawab, “Datangilah Adam.”
Nabi Adam menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka yang tiada pernah Dia marah sebelum dan sesudahnya seperti itu. Rabb-ku pernah melarangku mendekati sebuah pohon (di surga dulu),tetapi aku berma’shiyat, melanggar larangan itu karena nafsuku. Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi lain selainku. Pergilah kalian kepada Nuh.”
Kemudian mereka mendatangi Nabi Nuh, lalu berkata : “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama di bumi. Allahmenyebutmu sebagai hamba yang sangat bersyukur. Maka mintakanlah kepada Rabb-mu syafa’at untuk kami.Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang telah menimpa kami?”.
Kemudian Nabi Ibrahim pun menjawab, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya.”
Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya aku pernah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada ‘Isa.”
Proses mendapatkan safaat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam:
Dari Abu Hurairoh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada suatu hari Rasulullah diberi daging, dengan disuguhkan kepada beliau bagian lengan kambing dan beliau menyukainya. Lalu, beliau menggigitnya dengan ujung giginya. Kemudian beliau bersabda: “Aku adalah pemimpin (tuan / sayyid) manusia pada Hari Kiamat. Apakah kamu sekalian mengerti mengapa demikian? Pada Hari Kiamat, Allah mengumpulkan semua manusia, yang dahulu dan yang akhir di suatu tempat. Lalu mereka mendengar suara penyeru. Pandangan pun tiada terhalang, dan matahari pun dekat. Manusia mengalami kesedihan dan kesulitan yang tiada mampu mereka tanggung dan mereka pikul.
Maka, sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Tidakkah kamu tahu apa yang kamu alami? Tidakkah kamu tahu apa yang menimpamu? Tidakkah kamu cari siapa yang dapat memberimu syafa’at kepada Rabb-mu?”
Sebagian yang lain di antara mereka pun menjawab, “Datangilah Adam.”
Kemudian mereka pun mendatangi Adam, dan berkata: “Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan Tangan-Nya. Lalu Dia tiupkan kepadamu Ruh-Nya dan memerintahkan para Malaikat agar mereka bersujud (hormat) kepadamu. Maka mintalah kepada Rabb-mu syafa’at bagi kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang menimpa kami?”.
Nabi Adam menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka yang tiada pernah Dia marah sebelum dan sesudahnya seperti itu. Rabb-ku pernah melarangku mendekati sebuah pohon (di surga dulu),tetapi aku berma’shiyat, melanggar larangan itu karena nafsuku. Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi lain selainku. Pergilah kalian kepada Nuh.”
Kemudian mereka mendatangi Nabi Nuh, lalu berkata : “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama di bumi. Allahmenyebutmu sebagai hamba yang sangat bersyukur. Maka mintakanlah kepada Rabb-mu syafa’at untuk kami.Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang telah menimpa kami?”.
Nabi Nuh menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya. Sungguh, dahulu aku pernah mendo’akan jelek untuk kaumku. Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Ibrahim.”
Kemudian manusia mendatangi Nabi Ibrahim, dan berkata: “Engkau adalah Nabi Allah dan Kekasih-Nya dari penduduk bumi. Mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang menimpa kami?”.
Kemudian Nabi Ibrahim pun menjawab, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya.”
Nabi Ibrahim menyebutkan dusta yang telah dialaminya (ketika ia menghancurkan berhala – pen). Nabi Ibrahim berkata, “Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Nabi lain selainku. Pergilah kalian kepada Musa.”
Maka mereka pun mendatangi Musa, lalu berkata: “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah memberimu keutamaan dengan risalah-Nya, dan firman-Nya kepadamu melebihi manusia lain. Maka mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang telah menimpa kami?”.
Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya aku pernah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada ‘Isa.”
Lalu mereka mendatangi Nabi ‘Isa, seraya berkata: “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia ketika engkau baru lahir. Engkau terwujud dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam dengan tiupan roh dari-Nya. Maka, mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang menimpa kami?”.
Nabi ‘Isa menjawab: “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini murka tiada tara, yang belum pernah Dia murka seperti itu sebelum dan sesudahnya.”
Nabi ‘Isa tidak menyebutkan dosa yang pernah dialaminya.
Kata Nabi ‘Isa selanjutnya, “Aku (saat ini) sibuk dengan urusanku sendiri, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Pergilah kalian kepada Muhammad.”
Kemudian mereka mendatangiku, dan berkata : “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, engkau adalah Penutup para Nabi, Allah telah memberikan ampunan atas dosa yang telah engkau lakukan (seandainya ada). Maka, mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau tahu apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau tahu apa yang sedang menimpa kami?”.
Maka aku (Nabi Muhammad) pergi dan mendatangi Tahtal ‘Arsy (ke bawah ‘Arsy). Lalu aku bersujud kepada Rabb-ku. Kemudian Allah memberiku pertolongan dan pemberitahuan yang tidak pernah Dia berikan kepada seseorang sebelum aku. Dia berfirman, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, maka engkau akan diberi. Mintalah syafa’at, maka engkau akan diizinkan untuk memberi syafa’at.”
Lalu aku mengangkat kepalaku, dan aku mengatakan: “Ya Allah, tolonglah umatku! Tolonglah umatku!”
Aku dijawab: “Wahai Muhammad, masukkanlah ke surga umatmu yang bebas hisab dari pintu kanan surga, dan selain mereka lewat pintu yang lain lagi.” Demi Allah yang menguasai diri Muhammad, sesungguhnya antara dua daun pintu di surga sebanding antara Mekkah dan Hajar (daerah Palestina – pent.), atau antara Mekkah dan Bashra (Iraq – pent.).” (HR. Muslim no. 194)
2. Safaat nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam diberikan kepada
mereka yang melakukan ikhlas salawat kepada nabi:
ALLOHUMMA SHALLI 'ALA MUHAMMAD,
WA 'ALA ALI MUHAMMAD.
Perbanyaklah salawat pada malam Jumat dan hari Jumat.
Perbanyaklah salawat pada malam Jumat dan hari Jumat.
♻ Marilah
kita, banyak2 bersholawat di malam Jumat dan hari Jumat.
Mari kita bershalawat untuk Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad.
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad.
Dalilnya:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَكْثِرُوا مِنَ الصَّلَاةِ
عَلَيَّ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ ولَيْلَةِ الْجُمْعَةِ فَمَنْ فَعَلَ ذَالِكَ
كُنْتُ لَهُ شَهِيْداً وَ شَفِيْعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِ –البيهقي
:Artinya
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : ”Banyaklah
bershalawat kepadaku di hari Jumat dan malam Jumat.
Barang siapa melakukan hal itu, maka aku menjadi saksi dan
pemberi syafa’at baginya di hari kiamat. (HR. Al Baihaqi, dihasankan oleh As
Suyuthi).
Semoga bermanfaat
wallahu a'lam bishawab
